Minggu, 25 November 2012







Pemimpin yang Berhasil


Bacaan: 1 Raja-raja 4:1-20
Pada masa awal pemerintahannya, Salomo memperoleh anugerah hikmat kebijaksanaan dari Tuhan (1 Raj. 3:11-13). Dengan anugerah tersebut ia menjalankan roda pemerintahan, sehingga masa pemerintahannya menjadi masa puncak kejayaan monarki Israel. Hal yang menarik, meski memiliki kebijaksanaan yang sedemikian besar, Salomo tidak takabur atau lupa daratan. Ia tetap menyadari bahwa bagaimana pun dirinya tetaplah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Maka dari itu, ia kemudian mengangkat dua belas orang pilihan untuk menjadi kepala daerah yang menolongnya mengelola keseluruhan kerajaan Israel. Hasilnya, kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh Israel. “Orang Yehuda dan orang Israel jumlahnya seperti pasir di tepi laut. Mereka makan dan minum serta bersukaria” (1 Raj. 4:20).
Bagi banyak orang, seorang pemimpin selalu diidentikkan dengan sosok pribadi unggul. Misalnya unggul dalam hal intelektual, pengalaman, kemampuan pribadi, kekuasaan, dan lain sebagainya. Di satu sisi pandangan seperti ini memberi efek positif yang membuat seseorang memiliki kebanggaan atas keberadaan dirinya. Namun bila tidak dikendalikan, perasaan banggga tersebut dapat membuatnya sombong karena menempatkan diri sebagai pribadi yang paling berkompeten dibanding orang lain dalam segala. Lebih pandai, lebih benar, lebih tahu, dan selalu lebih dalam segala hal sehingga mengabaikan keberadaan orang lain.
Melalui keputusannya mengangkat dua belas kepala daerah, Salomo dalam kebijaksanaannya ingin menyatakan bahwa seorang pemimpin selalu memerlukan orang lain agar mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dengan kata lain, tidak ada pemimpin yang dapat berhasil seorang diri. Maka dari itu, seorang pemimpin haruslah seorang yang tidak hanya memiliki keunggulan kualitas individu, tetapi juga kesadaran bahwa dirinya–tentunya tanpa mengesampingkan campur tangan Tuhan–juga selalu memerlukan orang lain untuk menolongnya.
Pagi hari ini, bila saat ini kita dipercaya untuk menjadi pemimpin, kiranya apa yang dilakukan Salomo dapat menjadi pembelajaran yang berharga bagi kita agar menjadi pemimpin yang baik.
Sumber: Renungan Pagi, September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar